Cinta dalam Semangkuk Mie**(c)*
Dingin malam menggigit. Angin mendesir menambah dingin. Semakin lama perutku
semakin terasa lapar. Aksi gocekan bola pemain-pemain bintang di lapangan
hijau pun jadi kurang nikmat. Dalam kondisi seperti ini sesuatu yang
hangat-hangat nikmat patut tersedia. Hanya satu pilihan makanan bagi para
pecandu bola saat malam buta, sesuatu yang praktis dan cepat: Mie instan.
Uuh, tidak ada sepotong pun mie tersisa. Rasanya aku sudah membeli sepuluh
bungkus mie instan. Kemana ya? Aku hanya seorang diri di kamar
*indekost*ini. Tak mungkin ada jin yang doyan mie. Aku tepuk dahi ini.
Sudah lupakah
kamu berapa kali kamu nonton bola malam-malam? Aku tak pernah lalai
menyantap mie sewaktu menonton pertandingan bola pada malam hari. Walhasil,
terpaksalah aku keluar membeli mie instan di warung Ucok. Sekarang jam dua
belas lewat tujuh menit. Biasanya Ucok masih melek.
Dugaanku benar. Pintu warung mie Ucok masih terbuka, tapi lampu bohlamnya
tidak menyala. Ucok setengah menguap menyambutku.
"Ngantuk, Cok?"
"Iyalah, belum tidur, *Lae*?"
Aku tersenyum. Ucok paham dia tahu betul aku pecandu bola.
"Jangan terlalu sering, Mas," ujarnya.
Si Ucok anak Deli ini sering tidak konsisten menyapa orang. Tadi aku
dipanggilnya '*Lae*" tapi barusan 'Mas". Aku sendiri lebih suka dipanggil "*
Lae*". Rasanya terasa lebih jantan.
"Kenapa? Karena aku jadi sering begadang terus kurang istirahat dan akhirnya
jatuh sakit. *Dus*, kuliah terbengkalai, tidak bisa cepat-cepat diwisuda
supaya cepat dapat pekerjaan. Begitu
senyum kemenangan, berhasil menerka maksud Ucok.
"Bukan begitu, *Lae*. Itu pandangan ekstrim sekaligus klise. Siapa bisa
menjamin kalau sudah bisa jadi sarjana lantas cepat dapat kerja. Memangnya
cuma sarjana saja yang bisa sukses?" tangkisnya. "Buktinya orang tak tamat
SMA saja bisa jadi konglomerat!"
"Iya, jebolan STM juga bisa loh, Cok. Mantan guru SMP, tukang bajaj semua
punya kesempatan jadi konglomerat," sambungku. "Asal ada referensi dan
komisi!"
Tawa kami berderai lepas di keheningan malam. Untung kami bukan pensiunan
pejabat tinggi negara atau purnawirawan panglima yang setiap gerak dan
ucapannya diendus wartawan dan jadi *headline* koran nasional.
Ujung-ujungnya dituding kumpul-kumpul untuk bikin makar. Untunglah kami
hanya mahasiswa biasa dan tukang mie dalam sebuah warung mie sederhana.
"Di piring atau mau dibungkus, Mas?" tanya Ucok.
Cepat juga kerjanya. Mie dengan telor hangat mengepul di penggorengan.
Perutku semakin lapar.
"Aku makan di sini saja, Cok." Tiba-tiba aku tidak berminat lagi dengan
pertandingan sepakbola. Saat ini aku hanya ingin *ngobrol *dengan Ucok.
Mungkin rumput yang bergoyang didera angin di tegalan sebelah warung juga
tidak tahu.
bangku kayu warung mie Ucok menghadapi semangkuk mie instan yang mengepul
berasap. Mungkin karena aku butuh teman sebagai tempat curhat uneg-uneg
kegagalanku dalam ujian mid-semester, dosen *killer* dengan setumpuk tugas,
dan banyak lagi permasalahan anak rantau. Sebagai *jomblo*, aku butuh tempat
menumpahkan isi hati, bahkan tempat memaki yang saat ini izinnya diobral
murah.
"*Lae*, lekas dimakan mienya. Nanti keburu dingin."
Aku tergagap. Kuseruput kuah mie. Enak. Tak salah Ucok selalu kubanggakan di
kalangan teman-teman kampus. Maklum mie instan dan mahasiswa
*indekost*adalah pasangan yang tidak dapat dipisahkan sehingga mie
lezat selalu dapat
tempat terhormat.
"Tadi aku mau bilang jangan sering-sering memaksakan badan begadang nonton
bola, Mas. Badan ini
"Kamu sendiri sering begadang seperti ini
menggeleng. Aku merasa itu berarti "bukan begitu, kamu belum mengerti
maksudku".
Ucok mengambil mangkuk ayam dari rak piring. Dilapnya mangkuk tersebut.
"Sudahlah, *Lae*, nanti kita malah debat kusir berkepanjangan. Aku juga yang
rugi kalau mendadak Mas Arya tak makan di sini lagi."
Ia terkekeh. Aku tersenyum. *Statement* klasik khas pedagang, gumamku.
"Berarti kamu lebih mementingkan profesionalisme ketimbang membiarkan hati
nuranimu berbicara?" pancingku dengan pertanyaan berat. Kata orang-orang,
Ucok hanya jebolan SMP. Tapi sekali dua kulihat dia membaca buku-buku tebal
sewaktu menunggui warungnya. Entah buku apa, aku enggan bertanya. Ini
Jakarta, Bung, *let it be his privacy*, demikian pikirku. Ia pun tekun
sholat
"Padahal menjadi profesional tidak berarti harus membungkam hati nurani.
Biarkan hati ini bicara. Hal inilah yang mulai punah dewasa ini. Demi
tuntutan devisa negara, kita bungkam hati nurani. Kita tak peduli dampaknya
pada degradasi moral anak bangsa. Sayangnya budaya semacam ini sudah menular
ke kalangan bawah. Atau justru budaya ini memang berakar dari bawah!"
lanjutku dengan
mahasiswa.
Ucok tertegun sejenak. "Wah, itu terlalu tinggi, *Lae*. Aku hanya anak
petani Deli. Pikiranku sederhana. Tidak seperti mahasiswa atau cendekiawan
yang mengawang. Aku tidak seperti apa yang Mas Arya katakan. Apa tadi?"
tanyanya. "Membungkam hati nurani?" Ucok tersenyum sejenak. "Pada dasarnya
kita semua berbuat karena terdorong oleh rasa cinta. Cinta yang menggelora
yang menggairahkan kita untuk berbuat sesuatu. Jika cinta itu lenyap, sirna
sudah kenikmatan." Ia terdiam. Mencari-cari stok mie di lemari kecilnya.
Denting piring dipukul tukang sekoteng menandakan larutnya malam.
Ucok mengacungkan sepotong mie yang terlepas dari bungkusnya. "Mas tahu
tidak?
Betapa aku mencintai mie ini karena aku cinta hidup. Seorang pejabat
mengkorupsi uang negara karena terlalu mencintai harta. Cinta ibarat energi
yang tak pernah musnah. Ia hanya pindah dari satu bentuk ke bentuk yang
lain. Cinta selalu memancar di mana ia berada. Aku berwudhu karena aku cinta
Allah maka di wajahku yang kubasuh terpancar rasa cintaku kepada Allah. *Lae
* suka sepakbola bahkan sangat mencintainya. Maka kecintaan tersebut akan
terpancar. Semua aktivitas manusia didasari cinta. Yang membedakan adalah
bagaimana bentuk cintanya dan seberapa besar takarannya."
Aku terdiam, merenung. Ucok menjerang sepotong mie tersebut. Dipecahkannya
telur dan dicampurkannya bumbu. Begitu bersemangat ia. Rupanya ia begitu
mencintai pekerjaannya dengan ikhlas sehingga terpancar rasa cintanya itu.
Aku lihat diriku. Mungkin aku memang tidak mencintai kuliahku. Tak ada rasa
keterikatan yang ikhlas, yang ada hanya keterpaksaan. Tak ada rasa rindu,
yang ada hanya rasa benci. Aku memaki penyanyi yang menyenandungkan benci
tapi rindu. Bohong besar. Kedua perasaan itu tidak mungkin bersatu. Itu
adalah kamuflase rasa rindu yang mendua.
Ucok menyantap sepotong mie yang dimasaknya. Aku memandanginya. Angin malam
bertiup semilir seiring desah nafasku. Terkadang kita lebih bisa disadarkan
oleh orang kecil yang berkata tulus sepenuh hati daripada omongan pejabat
yang besar mulut tanpa aksi. Sayangnya hak bersuara *wong cilik* seperti
Ucok ini terpinggirkan dan terkekang. Suara mereka hanya diburu saat pemilu
Aku pamit pada Ucok setelah membayar semangkuk mienya. Itulah sisa uangku
yang menipis di akhir bulan. Aku berharap transferan uang bulanan dari Solo
tidak telat lagi. Semoga saja panen di kampung tidak gagal. Yah,
kupikir-pikir aku juga *wong cilik*.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar